KETIKA KITA TIDAK MENGERTI TUHAN

16 Agustus 2026Umum 2GMS Lampung
100%

SERI KHOTBAH: TETAPLAH BERDOA

KHOTBAH 2 — KETIKA KITA TIDAK MENGERTI TUHAN

Tokoh: Habakuk

Teks utama: Habakuk 1:1–4; 2:1–4; 3:17–19

Ayat benang merah: 1 Tesalonika 5:17

Tema: Tetaplah berdoa ketika kita tidak mengerti apa yang Tuhan lakukan.


Thank you untuk team PAW yang luar biasa…. Shalom Bp Ibu Sdr-I semuaya … Siapa yang merasakan hadirat Tuhan di tempat ini?Saya percaya kita merasakan hadirat Tuhan karena hati kita tertuju padanya.


Di sepanjang bulan ini menjadi bulan doa bagi GMS. Untuk itu sepanjang hari ini saya akan menyampaikan khotbah dengan tema besarnya adalah Tetaplah Berdoa.


U1 – Ketika kita tidak tahu harus berbuat apa

U2 – Ketika kita tidak memahami Tuhan

U3 – Ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan.


Taukah kita ayat terpendek di dalam alkitab ada dimana?1 Tesalonika 5:17 “TETAPLAH BERDOA”


GAGASAN UTAMA

Kita tidak harus memahami semua yang Tuhan lakukan untuk tetap mempercayai siapa Tuhan itu.


I. PEMBUKAAN

Ada jenis masalah yang berbeda dari masalah Yosafat.

Yosafat berkata:

“Tuhan, saya tidak tahu harus berbuat apa.”

Tetapi ada saat ketika kita tahu apa yang harus kita lakukan.

Kita sudah berdoa.

Kita sudah percaya.

Kita sudah berusaha hidup benar.

Tetapi kemudian kita melihat sesuatu yang tidak kita mengerti.

Kita bertanya:

“Tuhan, mengapa?”

Ini adalah jenis pergumulan yang sangat dalam.

Karena masalahnya bukan hanya:

“Apa yang harus saya lakukan?”

Tetapi:

“Tuhan, saya tidak mengerti mengapa Engkau membiarkan ini terjadi?”

Di sinilah kita bertemu dengan Habakuk.

Dan sekali lagi jawabannya:

Tetaplah berdoa.


II. HABAKUK DATANG KEPADA TUHAN DENGAN PERTANYAAN

Habakuk 1:2

Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: "Penindasan!" tetapi tidak Kautolong?


Perhatikan kata:

“Aku berteriak.”

Habakuk tidak diam.

Dia membawa pertanyaannya kepada Tuhan.

Ini penting:

Pertanyaan yang dibawa kepada Tuhan lebih baik daripada kepahitan yang disimpan jauh dari Tuhan.


III. HABAKUK MELIHAT KEJAHATAN

Habakuk 1:3–4

3 Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi.

4 Itulah sebabnya hukum kehilangan kekuatannya dan tidak pernah muncul keadilan, sebab orang fasik mengepung orang benar; itulah sebabnya keadilan muncul terbalik.


Habakuk melihat:

  1. kelaliman,
  2. ketidakadilan,
  3. kekerasan,
  4. hukum yang tidak ditegakkan.

Dan dia bertanya:

“Mengapa Tuhan tidak melakukan sesuatu?”

Bukankah ini juga pertanyaan manusia zaman sekarang?

Kita melihat ketidakadilan.

Kita melihat orang baik menderita.

Kita melihat orang jahat seperti berhasil.

Kita berdoa:

“Tuhan, mengapa?”


IV. TUHAN MENJAWAB — TETAPI JAWABANNYA MEMBUAT HABAKUK SEMAKIN BINGUNG

Tuhan mengatakan bahwa Ia akan memakai bangsa Kasdim/Babel sebagai alat penghukuman.

Habakuk mungkin berharap:

“Tuhan akan menghancurkan orang jahat.”

Tetapi Tuhan berkata:

“Aku akan menggunakan bangsa yang bahkan lebih mengerikan.”

Ini membuat Habakuk menghadapi pergumulan kedua.

Bukan lagi:

“Mengapa Tuhan tidak bertindak?”

Tetapi:

“Mengapa Tuhan bertindak dengan cara seperti ini?”


V. KITA SERING MEMILIKI CARA KITA SENDIRI TENTANG BAGAIMANA TUHAN HARUS BEKERJA

Ini pergumulan banyak orang percaya.

Kita berkata:

“Tuhan, saya percaya Engkau.”

Tetapi diam-diam kita juga berkata:

“Tapi Tuhan, tolong lakukan dengan cara yang saya inginkan.”

Kita memberikan Tuhan:

tujuan + metode + waktu.

Tetapi Tuhan adalah Tuhan.

Dia tidak wajib mengikuti cara kita.


VI. HABAKUK MEMILIH MENUNGGU

Habakuk 2:1

Aku mau berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara, aku mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankan-Nya kepadaku, dan apa yang akan dijawab-Nya atas pengaduanku.


Ini perkembangan rohani.

Habakuk: bertanya → menunggu.

Kadang-kadang kita sudah berdoa tetapi tidak mau menunggu.

Kita ingin:

“Tuhan, jawab sekarang.”

Tetapi Tuhan terkadang berkata: “Tunggu.”


VII. DOA BUKAN HANYA BERBICARA

Doa memiliki dua arah:

Kita berbicara kepada Tuhan.

Tetapi juga:

Kita belajar mendengarkan Tuhan.

Habakuk tidak hanya mengeluarkan keluhannya.

Ia berdiri dan menunggu.


VIII. TUHAN MEMBERIKAN PRINSIP

Habakuk 2:4

Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya.


“Tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya.”

Ini pusat kitab Habakuk.

Tuhan tidak memberikan Habakuk semua detail masa depan.

Tetapi Tuhan memberikan sesuatu yang lebih penting:

Percayalah kepada-Ku.

Iman bukan kemampuan mengetahui semua jawaban.

Iman adalah kemampuan tetap percaya ketika belum memiliki semua jawaban.


IX. DARI “MENGAPA?” MENUJU “NAMUN”

Habakuk 3:17

Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,


Ayat ini juga yang menjadi inspirasi dari lagu seorang hamba Tuhan yang luar biasa Pdt. Welyar Kauntu dengan judul lagunya "The Lord is my strength"


EVENTHOUGH THE FIG TREES HAVE NO FRUIT

AND NO GRAPES GROW ON THE VINES

EVENTHOUGH THE OLIVE CROP FAILS

AND THE FIELDS PRODUCE NO CORN


EVENTHOUGH THE SHEEP ALL DIE

AND THE CATTLE STALLS ARE EMPTY

I WILL STILL BE JOYFUL AND GLAD

BECAUSE THE LORD GOD IS MY SAVIOR


THE LORD GIVES ME STRENGTH

HE MAKES ME SUREFOOTED AS A DEER

AND KEEPS ME SAFE ON THE MOUNTAIN

BECAUSE THE LORD IS MY STRENGTH


Habakuk membayangkan keadaan yang sangat buruk.

Pohon ara tidak berbunga.

Pohon anggur tidak berbuah.

Hasil kebun gagal.

Ternak tidak ada.

Secara ekonomi:

kehancuran.

Tetapi kemudian muncul satu kata yang sangat kuat:

“Namun...”


X. “NAMUN AKU AKAN BERSORAK”

Habakuk 3:18

namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.


“Namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN.”

Perhatikan:

Keadaan belum berubah.

Babel belum hilang.

Masalah belum selesai.

Tetapi hati Habakuk berubah.

Dari:

“Tuhan, mengapa?”

menjadi:

“Namun aku akan tetap percaya.”


XI. IMAN YANG DEWASA

Iman yang belum dewasa berkata:

“Saya percaya Tuhan karena semuanya berjalan baik.”

Iman yang dewasa berkata:

“Sekalipun semuanya tidak berjalan baik, saya tetap percaya Tuhan.”

Ini perbedaan besar.

Iman tidak bergantung kepada keadaan.

Iman bergantung kepada Tuhan.


XII. TIGA TAHAP PERGUMULAN HABAKUK

1. Habakuk menangis kepada Tuhan

Habakuk 1

“Tuhan, mengapa?”

Tidak apa-apa membawa pertanyaan.


2. Habakuk menunggu Tuhan

Habakuk 2

“Aku mau menantikan...”

Tidak semua jawaban datang segera.


3. Habakuk mempercayai Tuhan

Habakuk 3

“Namun aku akan bersorak-sorak...”

Inilah pertumbuhan.

Pertanyaan → Penantian → Kepercayaan.


XIII. APLIKASI UNTUK JEMAAT

1. Bawa pertanyaan kita kepada Tuhan, bukan menjauh dari Tuhan

Ketika kita tidak mengerti Tuhan, jangan menjauhi Tuhan, tetaplah berdoa


2. Belajar menunggu tanpa berhenti percaya

Jangan mengartikan keterlambatan sebagai ketidakhadiran Tuhan.

Tuhan yang diam bukan berarti Tuhan tidak bekerja.


3. Kita tidak harus mengerti semuanya untuk tetap percaya

Jangan biarkan:

“Kalau keadaan saya berubah, baru saya akan bersukacita.”

Sebaliknya:

“Sekalipun keadaan belum berubah, saya tetap memilih percaya kepada Tuhan.”


XIV. PRE - ALTAR CALL

Mungkin ada yang sedang berkata:

“Tuhan, saya tidak mengerti.”

Tidak mengerti mengapa:

  1. doa belum dijawab,
  2. keluarga belum berubah,
  3. keadaan belum pulih,
  4. kesempatan belum datang,
  5. masalah justru semakin besar.

Hari ini Tuhan tidak selalu memberikan semua jawaban.

Tetapi Dia memberikan undangan:

“Percayalah kepada-Ku.”


Tuhan tidak meminta kita memahami seluruh perjalanan. Tuhan meminta kita mempercayai-Nya.


XIV. ALTAR CALL

Hari ini saya ingin mengundang orang yang sedang berkata:

“Tuhan, saya tidak mengerti.”

Mungkin ada doa yang sudah bertahun-tahun Anda panjatkan.

Mungkin Anda sudah bertanya:

“Sampai kapan?”

Hari ini jangan berhenti.

Datanglah kembali kepada Tuhan.

Bukan karena kita sudah memahami semuanya.

Tetapi karena kita percaya bahwa Dia tetap baik.

Jika Anda sedang berada dalam musim menunggu, mari datang kepada Tuhan.


TUTUP DOA --> JEMAAT DUDUK --> KELUAR


XV. DOA PENUTUP

“Tuhan, kami mengakui bahwa ada banyak hal yang tidak kami mengerti.

Kami punya pertanyaan.

Kami punya air mata.

Kami punya pergumulan.

Kadang kami bertanya:

‘Mengapa?’

Tetapi hari ini kami belajar dari Habakuk untuk tetap datang kepada-Mu.

Ajarlah kami menunggu.

Ajarlah kami mendengarkan.

Ajarlah kami percaya.

Ketika kami belum melihat jawaban, biarlah kami tetap berdoa.

Ketika keadaan belum berubah, biarlah iman kami tidak berubah.

Kami mungkin tidak memahami jalan-Mu, tetapi kami percaya Engkau baik.

Dalam nama Yesus.

Amin.”


KALIMAT KUNCI KHOTBAH

“Saya mungkin tidak mengerti apa yang Tuhan lakukan, tetapi saya tetap percaya kepada siapa Tuhan itu.”


TRANSISI KE KHOTBAH 3

Yosafat mengajarkan:

“Ketika saya tidak tahu harus berbuat apa, saya tetap berdoa.”

Habakuk mengajarkan:

“Ketika saya tidak mengerti apa yang Tuhan lakukan, saya tetap berdoa.”

Tetapi masih ada satu level pergumulan yang lebih dalam.

Bagaimana kalau bukan hanya kita tidak mengerti?

Bagaimana kalau kita kehilangan sesuatu yang sangat kita cintai?

Di situlah kita akan bertemu dengan Ayub.

Dan sekali lagi:

Tetaplah berdoa.