KETIKA KITA TIDAK TAHU HARUS BERBUAT APA
SERI KHOTBAH: TETAPLAH BERDOA
KHOTBAH 1 — KETIKA KITA TIDAK TAHU HARUS BERBUAT APA
Tokoh: Yosafat
Teks utama: 2 Tawarikh 20:1–22
Ayat benang merah: 1 Tesalonika 5:17
Tema: Tetaplah berdoa ketika kita tidak tahu harus berbuat apa.
Thank you untuk team PAW yang luar biasa…. Shalom Bp Ibu Sdr-I semuaya … Siapa yang merasakan hadirat Tuhan di tempat ini?Saya percaya kita merasakan hadirat Tuhan karena hati kita tertuju padanya.
Di sepanjang bulan ini menjadi bulan doa bagi GMS. Untuk itu sepanjang hari ini saya akan menyampaikan khotbah dengan tema besarnya adalah Tetaplah Berdoa.
U1 – Ketika kita tidak tahu harus berbuat apa
U2 – Ketika kita tidak memahami Tuhan
U3 – Ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan.
Taukah kita ayat terpendek di dalam alkitab ada dimana?1 Tesalonika 5:17 “TETAPLAH BERDOA”
GAGASAN UTAMA
Ketika kita tidak tahu apa yang harus dilakukan, kita selalu tahu kepada siapa kita harus datang.
I. PEMBUKAAN
Bayangkan suatu pagi Anda menerima sebuah telepon.
Bukan telepon biasa.
Orang di seberang berkata:
“Ada masalah besar. Kita tidak punya banyak waktu. Dan kalau ini tidak segera diselesaikan, akibatnya akan sangat besar.”
Apa yang pertama kali muncul?
Panik.
Kita mulai berpikir:
- “Saya harus menghubungi siapa?”
- “Apa yang harus saya lakukan?”
- “Bagaimana caranya menyelesaikan ini?”
- “Apa rencana B?”
- “Bagaimana kalau gagal?”
Itu respons manusia.
Ketika masalah datang, kita ingin mengendalikan keadaan.
Tetapi ada keadaan tertentu dalam hidup ketika kita akhirnya sampai pada satu titik:
“Saya tidak tahu harus berbuat apa.”
Dan justru di titik itulah kita belajar sesuatu yang sangat penting:
Tidak tahu harus berbuat apa bukan berarti tidak ada yang bisa dilakukan. Kita masih bisa berdoa.
AYAT BENANG MERAH
1 Tesalonika 5:17
“Tetaplah berdoa.”
Perhatikan Paulus tidak berkata:
“Berdoalah ketika ada masalah.”
Tidak juga:
“Berdoalah kalau sudah tidak punya solusi.”
Tetapi:
“Tetaplah berdoa.”
Artinya doa bukan emergency button.
Doa adalah cara hidup.
Hari ini kita akan melihat seseorang yang berada dalam situasi yang secara manusia membuatnya tidak tahu harus berbuat apa.
Namanya:
Yosafat.
II. KETIKA MASALAH DATANG
2 Tawarikh 20:1
Setelah itu bani Moab dan bani Amon datang berperang melawan Yosafat bersama-sama sepasukan orang Meunim.
Awalnya mereka adalah "bani" atau keturunan seseorang. Namun pada zaman Yosafat mereka sudah berkembang menjadi:
- memiliki wilayah sendiri,
- pemerintahan sendiri,
- identitas nasional sendiri,
- dapat berperang sebagai satu kesatuan politik.
Karena itu Alkitab sering menyebut mereka sebagai bangsa Moab dan bangsa Amon.
Bangsa-bangsa datang untuk berperang melawan Yehuda.
Yang menarik adalah masalah itu datang dalam jumlah besar.
Bukan satu musuh.
Bukan satu ancaman.
Ada beberapa bangsa yang bergabung untuk menyerang.
Secara manusia: Yehuda berada dalam posisi yang sangat sulit.
Aplikasi
Kadang-kadang masalah dalam hidup juga datang seperti itu.
Bukan satu masalah.
Tetapi beberapa sekaligus.
Masalah pekerjaan.
Masalah keluarga.
Masalah keuangan.
Masalah pelayanan.
Masalah hubungan.
Masalah masa depan.
Dan akhirnya kita berkata:
“Tuhan, saya bahkan tidak tahu harus mulai dari mana.”
III. YOSAFAT TAKUT
2 Tawarikh 20:3
Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari TUHAN. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa.
“Yosafat menjadi takut…”
Perhatikan sesuatu yang sangat manusiawi:
Yosafat takut.
Alkitab tidak mengatakan:
“Yosafat sangat beriman sehingga dia tidak takut.”
Tidak.
Dia takut.
Ini penting bagi kita.
Takut bukan berarti tidak beriman.
Yang menentukan kualitas iman kita bukan apakah kita pernah takut.
Tetapi:
Apa yang kita lakukan ketika kita takut?
Yosafat takut.
Tetapi dia tidak berhenti di ketakutan.
Lanjutan ayat 3:
“…lalu mengambil keputusan untuk mencari TUHAN.”
Inilah perubahan yang luar biasa:
TAKUT → MENCARI TUHAN
IV. APA YANG KITA LAKUKAN KETIKA TAKUT?
Biasanya manusia memiliki beberapa respons:
1. Panik
Kita memikirkan kemungkinan terburuk.
2. Mengandalkan kemampuan sendiri
Kita berpikir:
“Saya harus menyelesaikannya sendiri.”
3. Mencari manusia terlebih dahulu
Bukan salah meminta pertolongan kepada manusia.
Tetapi masalahnya adalah ketika manusia menjadi pertolongan pertama dan Tuhan menjadi pilihan terakhir.
Yosafat melakukan sesuatu yang berbeda.
Dia mencari Tuhan.
V. YOSAFAT MENGUMPULKAN UMAT UNTUK BERDOA
2 Tawarikh 20:4
Dan Yehuda berkumpul untuk meminta pertolongan dari pada TUHAN. Mereka datang dari semua kota di Yehuda untuk mencari TUHAN.
Seluruh Yehuda berkumpul untuk mencari Tuhan.
Bayangkan seorang raja mengumpulkan 1 bangsa.
Mungkin orang berharap:
“Raja akan memberikan strategi perang.”
Tetapi Yosafat justru membawa bangsa itu kepada Tuhan.
Ini menunjukkan:
Pemimpin yang kuat bukan pemimpin yang selalu mempunyai jawaban, tetapi pemimpin yang tahu kepada siapa harus membawa masalah.
Aplikasi bagi keluarga
Ayah dan ibu: Ketika keluarga mengalami masalah, jangan hanya rapat keluarga.
Berdoalah bersama keluarga.
Aplikasi bagi pemimpin
Ketika pelayanan mengalami masalah:
Jangan hanya membuat strategi.
Cari Tuhan.
Aplikasi bagi gereja
Ketika menghadapi tantangan:
Jangan hanya memperbesar aktivitas.
Perbesar kehidupan doa.
VI. DOA YOSAFAT DIMULAI DENGAN SIAPA TUHAN
2 Tawarikh 20:6
dan berkata: "Ya TUHAN, Allah nenek moyang kami, bukankah Engkau Allah di dalam sorga? Bukankah Engkau memerintah atas segenap kerajaan bangsa? Kuasa dan keperkasaan ada di dalam tangan-Mu, sehingga tidak ada orang yang dapat bertahan melawan Engkau.
Perhatikan:
Yosafat tidak memulai:
“Tuhan, musuh kami sangat besar!”
Dia mulai dengan:
“Siapa Tuhan di pandangannya.”
Ini prinsip doa yang penting.
Ketika masalah membesar, jangan hanya memperbesar masalah dalam pikiran kita.
Besarkan kembali pandangan kita kepada Tuhan.
VII. INGAT APA YANG TUHAN SUDAH LAKUKAN
Yosafat mengingat bagaimana Tuhan memberikan tanah itu kepada umat-Nya.
Ini penting.
Ketika kita menghadapi masalah hari ini, kita sering lupa pertolongan Tuhan kemarin.
Karena itu:
Ingat kesetiaan Tuhan.
Kalau Tuhan pernah menolong:
Dia masih Tuhan.
Kalau Tuhan pernah membuka jalan:
Dia masih Tuhan.
Kalau Tuhan pernah menjawab doa:
Dia masih Tuhan.
VIII. DOA TERBAIK YOSAFAT
2 Tawarikh 20:12
Ya Allah kami, tidakkah Engkau akan menghukum mereka? Karena kami tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi laskar yang besar ini, yang datang menyerang kami. Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tetapi mata kami tertuju kepada-Mu.
Ini mungkin salah satu doa paling jujur dalam Alkitab.
Yosafat tidak berpura-pura kuat.
Dia tidak berkata:
“Tuhan, saya sudah punya strategi.”
Dia berkata:
“Kami tidak tahu.”
Tetapi dia tidak berhenti di sana.
Dia berkata:
“Mata kami tertuju kepada-Mu.”
Ini iman.
Iman bukan:
“Saya tahu apa yang akan terjadi.”
Iman adalah:
“Saya tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi saya tahu kepada siapa saya percaya.”
IX. TUHAN MENJAWAB
2 Tawarikh 20:15
dan berseru: "Camkanlah, hai seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem dan tuanku raja Yosafat, beginilah firman TUHAN kepadamu: Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah.
Perhatikan:
Mereka berdoa.
Tuhan memberikan firman.
Kemudian mereka maju.
Mereka tidak pasif.
Doa tidak menggantikan ketaatan.
Doa menghasilkan ketaatan.
X. MEREKA MEMUJI SEBELUM MELIHAT KEMENANGAN
2 Tawarikh 20:21
Setelah ia berunding dengan rakyat, ia mengangkat orang-orang yang akan menyanyi nyanyian untuk TUHAN dan memuji TUHAN dalam pakaian kudus yang semarak pada waktu mereka keluar di muka orang-orang bersenjata, sambil berkata: "Nyanyikanlah nyanyian syukur bagi TUHAN, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!"
Mereka mengangkat puji-pujian kepada Tuhan.
Ini luar biasa.
Mereka memuji bukan setelah melihat kemenangan.
Mereka memuji sebelum melihat hasilnya.
Inilah iman.
Saya belum melihat, tetapi saya percaya.
XI. TUHAN YANG BERPERANG BAGI MEREKA
2 Tawarikh 20:22
Ketika mereka mulai bersorak-sorai dan menyanyikan nyanyian pujian, dibuat Tuhanlah penghadangan terhadap bani Amon dan Moab, dan orang-orang dari pegunungan Seir, yang hendak menyerang Yehuda, sehingga mereka terpukul kalah.
Ketika mereka mulai menyanyikan pujian, Tuhan membuat musuh-musuh mereka saling menyerang.
Yehuda datang ke tempat itu dan menemukan bahwa Tuhan sudah bertindak.
Ada peperangan yang tidak bisa kita menangkan dengan kekuatan kita.
Tetapi kita bisa menyerahkannya kepada Tuhan.
KALIMAT KUNCI KHOTBAH
“Ketika kita tidak tahu apa yang harus dilakukan, kita selalu tahu kepada siapa kita harus datang.”
XII. TIGA PELAJARAN UTAMA
1. Jangan mengambil keputusan dalam ketakutan|
Ketika menghadapi keputusan besar—pekerjaan, bisnis, keluarga, pelayanan, keuangan, masa depan—jangan biarkan kepanikan menjadi pengambil keputusan.
2. Belajar berkata: “Tuhan, saya tidak tahu”
Kita tidak harus selalu memiliki jawaban.
Kadang iman justru dimulai ketika kita mengakui:
“Tuhan, saya tidak tahu.”
Tetapi kemudian dilanjutkan:
“Namun saya percaya kepada-Mu.”
3. Berhenti hanya melihat masalah, mulai melihat Tuhan
Jangan biarkan masalah menjadi lebih besar dalam pikiran daripada Tuhan dalam hati.
Ketika masalah semakin besar:
Perbesar kehidupan doa.
XIV. PRE - ALTAR CALL
Mungkin hari ini ada:
Orang yang tidak tahu harus mengambil keputusan apa.
Tetaplah berdoa.
Orang yang sedang menghadapi masalah keluarga.
Tetaplah berdoa.
Orang yang sedang mengalami tekanan pekerjaan.
Tetaplah berdoa.
Orang yang melihat masa depan dan berkata:
“Saya tidak tahu bagaimana semuanya akan berjalan.”
Tetaplah berdoa.
Karena:
Kita tidak selalu tahu apa yang harus dilakukan, tetapi kita selalu tahu kepada siapa kita harus datang.
XV. ALTAR CALL
Hari ini saya ingin mengundang orang-orang yang sedang berada di titik:
“Tuhan, saya tidak tahu harus berbuat apa.”
Mungkin Anda sudah mencoba berbagai cara.
Sudah berpikir.
Sudah bertanya kepada banyak orang.
Sudah mencari solusi.
Tetapi tetap tidak menemukan jalan.
Hari ini Tuhan berkata:
“Arahkan matamu kepada-Ku.”
Bukan berarti semua masalah langsung selesai.
Tetapi Anda tidak lagi menghadapinya sendirian.
Undangan:
“Kalau hari ini ada pergumulan yang ingin Anda serahkan kepada Tuhan, mari datang dalam doa.”
Berikan waktu beberapa menit untuk jemaat berdoa secara pribadi.
XV. DOA PENUTUP
“Tuhan, kami datang kepada-Mu.
Kami mengakui bahwa ada banyak hal yang tidak kami mengerti.
Ada masalah yang terlalu besar bagi kami.
Ada keputusan yang kami tidak tahu bagaimana mengambilnya.
Tetapi hari ini kami berkata seperti Yosafat:
‘Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tetapi mata kami tertuju kepada-Mu.’
Ajarlah kami untuk tidak hidup dikuasai ketakutan.
Ajarlah kami mencari Engkau terlebih dahulu.
Kami percaya bahwa Engkau adalah Tuhan yang berkuasa.
Kami serahkan keluarga kami.
Pekerjaan kami.
Pelayanan kami.
Masa depan kami.
Dan semua pergumulan kami.
Kami percaya kepada-Mu.
Dalam nama Yesus.
Amin.”
===
KUASA DOA
===
S'bab Engkau Tuhan yang menjawab doa
Dengan iman aku percaya penuh
Ada kuasa di dalam doaku
Aku t'rima dalam nama Yesus, Amin