KETIKA HIDUP TIDAK BERJALAN SESUAI HARAPAN
SERI KHOTBAH: TETAPLAH BERDOA
KHOTBAH 3 — KETIKA HIDUP TIDAK BERJALAN SESUAI HARAPAN
Tokoh: Ayub
Teks utama: Ayub 1:20–22; 2:9–10; 42:1–6, 10
Ayat benang merah: 1 Tesalonika 5:17
Tema: Tetaplah berdoa ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan.
Thank you untuk team PAW yang luar biasa…. Shalom Bp Ibu Sdr-I semuaya … Siapa yang merasakan hadirat Tuhan di tempat ini?Saya percaya kita merasakan hadirat Tuhan karena hati kita tertuju padanya.
Di sepanjang bulan ini menjadi bulan doa bagi GMS. Untuk itu sepanjang hari ini saya akan menyampaikan khotbah dengan tema besarnya adalah Tetaplah Berdoa.
U1 – Ketika kita tidak tahu harus berbuat apa
U2 – Ketika kita tidak memahami Tuhan
U3 – Ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan.
Taukah kita ayat terpendek di dalam alkitab ada dimana?1 Tesalonika 5:17 “TETAPLAH BERDOA”
GAGASAN UTAMA
Yosafat mengajarkan:
“Ketika saya tidak tahu harus berbuat apa, saya tetap berdoa.”
Habakuk mengajarkan:
“Ketika saya tidak mengerti apa yang Tuhan lakukan, saya tetap berdoa.”
Tetapi masih ada satu level pergumulan yang lebih dalam.
Bagaimana kalau bukan hanya kita tidak mengerti?
Bagaimana kalau kita kehilangan sesuatu yang sangat kita cintai?
Di situlah kita akan bertemu dengan Ayub.
Dan sekali lagi:
Tetaplah berdoa.
Iman yang dewasa bukan hanya tetap berdoa ketika Tuhan memberi, tetapi juga tetap datang kepada Tuhan ketika kita kehilangan.
I. PEMBUKAAN
Ada orang yang mudah berdoa ketika mendapatkan sesuatu.
Ketika mendapat pekerjaan:
“Tuhan, terima kasih.”
Ketika bisnis berhasil:
“Tuhan, terima kasih.”
Ketika anak berhasil:
“Tuhan, terima kasih.”
Ketika mendapat berkat:
“Puji Tuhan!”
Tetapi pertanyaannya:
Bagaimana kalau yang terjadi justru sebaliknya?
Bagaimana kalau pekerjaan hilang?
Bagaimana kalau bisnis gagal?
Bagaimana kalau kesehatan terganggu?
Bagaimana kalau hubungan rusak?
Bagaimana kalau sesuatu yang sangat kita doakan ternyata tidak terjadi?
Apakah kita masih akan berdoa?
Inilah pertanyaan yang dijawab oleh kehidupan Ayub.
II. AYUB ADALAH ORANG YANG SALEH
Sebelum melihat penderitaannya, kita harus melihat siapa Ayub.
Ayub 1:1
Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.
Ayub digambarkan sebagai orang yang saleh, jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.
Ini penting.
Karena terkadang kita mempunyai pemikiran:
“Kalau saya mengalami masalah berarti saya pasti melakukan kesalahan.”
Kisah Ayub menunjukkan bahwa:
Penderitaan tidak selalu merupakan hukuman atas dosa tertentu.
Ada misteri Tuhan yang tidak selalu kita mengerti.
III. DALAM WAKTU SINGKAT, SEMUANYA BERUBAH
Ayub kehilangan:
- ternak,
- kekayaan,
- para pekerja,
- anak-anaknya.
Satu kabar buruk datang.
Belum selesai.
Datang kabar buruk berikutnya.
Dan berikutnya.
Seolah-olah hidup Ayub runtuh dalam satu hari.
IV. AYUB BERDUKA
Ayub 1:20
Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah,
Ayub mengoyakkan jubahnya dan mencukur kepalanya.
Ini menunjukkan bahwa Ayub tidak berpura-pura kuat.
Dia berduka.
Dia menangis.
Dia merasakan sakit.
Ini penting bagi jemaat:
Beriman bukan berarti tidak boleh menangis.
Ada orang Kristen yang merasa:
“Kalau saya percaya Tuhan, saya tidak boleh sedih.”
Tidak benar.
Yesus sendiri menangis.
Ayub menangis.
Kesedihan bukan tanda bahwa kita kehilangan iman.
V. TETAPI AYUB SUJUD
Ayub 1:20 mengatakan:
“...kemudian sujudlah.”
Perhatikan gerakannya:
Hatinya hancur → tetapi tubuhnya sujud.
Dia tidak memahami semuanya.
Tetapi dia tetap datang kepada Tuhan.
VI. AYUB MEMUJI TUHAN DI TENGAH KEHILANGAN
Ayub 1:21
katanya: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!"
Ayub berkata:
“TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”
Ini bukan berarti Ayub tidak sakit.
Ini berarti rasa sakit tidak menjadi alasan untuk memutuskan hubungan dengan Tuhan.
VII. MASALAH BERLANJUT
Ayub kemudian kehilangan kesehatannya.
Tubuhnya penuh penyakit.
Dan istrinya berkata:
Ayub 2:9
Maka berkatalah isterinya kepadanya: "Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!
“Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!”
Ini adalah godaan yang sangat dalam.
Bukan hanya:
“Berhenti berharap.”
Tetapi:
“Berhenti percaya.”
VIII. AYUB MENOLAK
Ayub 2:10
Tetapi jawab Ayub kepadanya: "Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?" Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.
Ayub berkata:
“Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?”
Ayub tidak mengatakan:
“Saya mengerti.”
Dia tidak mengerti.
Dia tidak mengetahui percakapan di balik layar antara Tuhan dan Iblis.
Tetapi dia tetap memilih Tuhan.
IX. AYUB BERDOA DENGAN JUJUR
Dan di sinilah kita harus berhati-hati.
Ayub bukan manusia yang selalu tenang.
Ia mengeluh.
Ia bertanya.
Ia bahkan menginginkan dirinya tidak pernah dilahirkan.
Artinya:
Doa bukan tempat kita berpura-pura baik-baik saja.
Doa adalah tempat kita membawa keadaan kita yang sebenarnya kepada Tuhan.
Kita boleh berkata:
“Tuhan, saya sakit.”
“Tuhan, saya kecewa.”
“Tuhan, saya tidak mengerti.”
“Tuhan, saya lelah.”
Tetapi satu hal:
Jangan berhenti datang kepada Tuhan.
X. TUHAN AKHIRNYA BERBICARA
Di akhir kitab Ayub, Tuhan menjawab.
Tetapi menariknya:
Tuhan tidak memberikan semua jawaban yang Ayub inginkan.
Tuhan tidak berkata:
“Ayub, begini alasannya...”
Sebaliknya Tuhan menyatakan kebesaran-Nya.
Ayub akhirnya melihat:
Tuhan jauh lebih besar daripada pemahamannya.
XI. PERUBAHAN TERBESAR AYUB
Ayub 42:5
Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.
Ini luar biasa.
Ayub kehilangan banyak hal.
Tetapi melalui pergumulannya, dia mendapatkan pengenalan yang lebih dalam tentang Tuhan.
Ada perbedaan antara:
mengetahui tentang Tuhan dan mengenal Tuhan.
XII. TUHAN MEMULIHKAN AYUB
Ayub 42:10
Lalu TUHAN memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya, dan TUHAN memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu.
Tuhan memulihkan keadaan Ayub.
Tetapi jangan jadikan ini sebagai pesan:
“Kalau kita berdoa, Tuhan pasti mengembalikan semuanya persis seperti semula.”
Tidak.
Pesan utamanya bukan tentang mendapatkan kembali harta.
Pesan utamanya:
Tuhan tetap layak dipercaya bahkan ketika kita belum tahu bagaimana cerita akhirnya.
XIII. AYUB BERDOA UNTUK ORANG LAIN
Ini salah satu bagian paling indah.
Ayub 42:10
Ayub berdoa bagi sahabat-sahabatnya.
Bayangkan:
Dia sedang mengalami luka.
Tetapi dia berdoa bagi orang lain.
Ini menunjukkan bahwa doa telah membawa Ayub keluar dari pusat dirinya sendiri.
Awalnya:
“Tuhan, lihat penderitaanku.”
Akhirnya:
“Tuhan, berkatilah orang lain.”
Ini pertumbuhan rohani.
XIV. TIGA JENIS DOA DALAM KEHIDUPAN AYUB
1. Doa ketika mendapatkan
Ayub hidup dalam berkat.
2. Doa ketika kehilangan
Ayub tetap datang kepada Tuhan.
3. Doa ketika dipulihkan
Ayub kembali berdoa bagi orang lain.
Doa tidak berhenti pada satu musim.
XV. HUBUNGKAN DENGAN 1 TESALONIKA 5:17
“Tetaplah berdoa.”
Bukan:
Berdoalah ketika semuanya baik.
Bukan:
Berdoalah ketika Tuhan menjawab.
Tetapi:
Tetaplah berdoa.
Ketika diberkati:
Tetaplah berdoa.
Ketika kehilangan:
Tetaplah berdoa.
Ketika memahami:
Tetaplah berdoa.
Ketika tidak memahami:
Tetaplah berdoa.
Ketika melihat jalan:
Tetaplah berdoa.
Ketika tidak melihat jalan:
Tetaplah berdoa.
XVI. ILUSTRASI
Bayangkan sebuah kapal berada di tengah laut.
Ketika cuaca cerah, mudah untuk mengatakan:
“Saya percaya kapten.”
Tetapi kualitas kepercayaan terlihat ketika badai datang.
Ketika ombak besar.
Ketika langit gelap.
Ketika kita tidak bisa melihat arah.
Pada saat itu kita tidak lagi berkata:
“Saya tahu ke mana kita pergi.”
Tetapi:
“Saya percaya kepada orang yang memegang kemudi.”
Demikian juga kehidupan iman.
Kita tidak selalu tahu apa yang akan terjadi.
Tetapi kita tahu siapa yang memegang kehidupan kita.
XVII. TIGA KEBENARAN
1. Datang kepada Tuhan dengan hati yang jujur
Kita tidak perlu berpura-pura kuat di hadapan Tuhan.
Doa bukan tempat untuk menunjukkan bahwa kita baik-baik saja.
Doa adalah tempat kita berkata:
“Tuhan, ini keadaan saya sebenarnya.”
2. Tetap berdoa ketika Tuhan belum mengubah keadaan
Jangan jadikan:
“Doa saya belum dijawab”
sebagai alasan untuk:
“Saya berhenti berdoa.”
Karena iman bukan hanya percaya ketika kita melihat mujizat.
Iman juga berkata:
“Sekalipun saya belum melihat, saya tetap percaya.”
3. Jangan berhenti mendoakan orang lain ketika kita sendiri sedang terluka
Jangan biarkan luka membuat kita hanya berpusat pada diri sendiri.
Justru ketika kita terluka, kita bisa belajar menjadi pendoa syafaat.
XVIII. ALTAR CALL
Hari ini saya ingin berbicara kepada orang yang sedang mengalami kehilangan.
Mungkin ada sesuatu yang dulu Anda miliki tetapi sekarang sudah tidak ada.
Mungkin ada doa yang belum terjawab.
Mungkin ada harapan yang hancur.
Mungkin Anda sedang tersenyum di luar tetapi sebenarnya hati Anda sedang berkata:
“Tuhan, saya lelah.”
Hari ini Tuhan tidak meminta Anda berpura-pura kuat.
Tuhan mengundang Anda datang.
Anda boleh menangis.
Anda boleh berkata:
“Tuhan, saya tidak mengerti.”
Tetapi jangan berhenti berdoa.
Kalau Anda sedang berada di musim seperti Ayub, saya mengundang Anda untuk datang.
Bukan karena kita tahu bagaimana semuanya akan berakhir.
Tetapi karena kita percaya:
Tuhan tetap bersama kita.
XX. DOA PENUTUP
“Tuhan Yesus,
kami datang kepada-Mu apa adanya.
Ada di antara kami yang sedang bersukacita.
Ada yang sedang menunggu.
Ada yang sedang bingung.
Ada yang sedang terluka.
Ada yang kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
Hari ini kami belajar dari Ayub bahwa iman bukan berarti kami tidak pernah menangis.
Iman bukan berarti kami selalu memahami.
Iman berarti kami tetap datang kepada-Mu.
Ajarlah kami tetap berdoa.
Ketika kami menerima berkat, kami berdoa.
Ketika kami kehilangan, kami berdoa.
Ketika kami mengerti, kami berdoa.
Ketika kami tidak mengerti, kami berdoa.
Ketika kami melihat jalan, kami berdoa.
Ketika kami tidak melihat jalan, kami tetap berdoa.
Tuhan, kami percaya Engkau baik.
Kami percaya Engkau berdaulat.
Kami percaya Engkau tidak pernah meninggalkan kami.
Pulihkan hati yang terluka.
Kuatkan yang lemah.
Berikan pengharapan kepada yang putus asa.
Dan kembalikan kepada kami kehidupan doa yang mungkin selama ini telah hilang.
Dalam nama Yesus.
Amin.”
XXI. PENUTUP SERI
Setelah tiga khotbah ini, bawa jemaat kembali kepada tiga tokoh.
YOSAFAT
“Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan.”
Tetaplah berdoa.
HABAKUK
“Saya tidak mengerti apa yang Tuhan lakukan.”
Tetaplah berdoa.
AYUB
“Saya kehilangan sesuatu yang sangat berharga.”
Tetaplah berdoa.
Dan akhirnya:
1 TESALONIKA 5:17
“TETAPLAH BERDOA.”
Bukan karena setiap doa langsung mendapatkan jawaban.
Bukan karena setiap masalah langsung selesai.
Tetapi karena:
Doa membuat kita tetap terhubung kepada Tuhan dalam setiap musim kehidupan.
KALIMAT PENUTUP SELURUH SERI
“Ketika kita tidak tahu harus berbuat apa — berdoalah.
Ketika kita tidak mengerti apa yang Tuhan lakukan — berdoalah.
Ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan — tetaplah berdoa.”
TETAPLAH BERDOA.